Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh


الله يقدم دائما وسيلة سهلة لزيادة المعرفة

أخي وأخواتي، أنا أحبك لأن الله

Selasa, 31 Januari 2012

KEJUJURAN sebagai Soft Skill Mahasiswa

Tugas Individu SEBAGAI KOMPETENSI SOFTSKILL MAHASISWA Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik LILIS SURIYANI NAPITUPULU 309111041 NO. ABSEN : 27 FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI MEDAN 2011 Abstrak Pendidikan soft skills merupakan satu pilar pendidikan yang tidak didapatkan secara utuh di bangku pendidikan formal. Besarnya output dari pilar pendidikan ini menjadikan soft skills mutlak diperlukan dan diberikan untuk mengiringi hard skills para mahasiswa yang kelak akan terjun ke masyarakat setelah lulus nanti.Softskill sebenarnya adalah adalah seperangkat kemampuan yang mempengaruhi bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain. Soft skills memuat komunikasi efektif, berpikir kreatif dan kritis, membangun tim, serta kemampuan lainnya yang terkait kapasitas kepribadian individu. Kejujuran sebagai salah satu softskill mahasiswa bagian kecerdasan emosi yang menuntut suatu bentuk sikap yang benar dari seorang mahasiswa. Bila kita telusuri banyaknya permasalahn di Negara ini bukanlah karena kurangnya kemampuan untuk menelaah dan memecahkan masalah tersebut, namun karena kurangnya kejujuran dan ketidaksiapan pemerintah ketika sikap transparan mereka dibutuhkan. Softskill dan Kejujuran sebagai Salah Satu Bagiannya Perubahan zaman yang begitu cepat menuntut manusia mampu mengarahkan kemampuan-kemampuan terbaiknya demi memanusiakan manusia dan memberdayakan diri. Untuk itu kita mengenal softskill dalam setiap mata kuliah yang diajarkan di Perguruan Tinggi baik swasta maupun negeri dengan model yang berbeda-beda. Pendidikan soft skills merupakan satu pilar pendidikan yang tidak didapatkan secara utuh di bangku pendidikan formal. Besarnya output dari pilar pendidikan ini menjadikan soft skills mutlak diperlukan dan diberikan untuk mengiringi hard skills para mahasiswa yang kelak akan terjun ke masyarakat setelah lulus nanti. Belajar memecahkan masalah, memiliki empati terhadap orang lain, serta bisa mengambil keputusan dengan cepat dan berani mempertanggung jawabkan keputusannya tidak serta-merta didapatkan seorang mahasiswa melalui teori-teori diktat kuliah dan ceramah dosen di dalam kelas. Pendidikan karakter memang tidak dapat digarap secara teoritis, tapi langsung diterapkan di lapangan melalui serangkaian simulasi memecahkan permasalahan baik secara individu maupun kerjasama. Pada beberapa Perguruan Tinggi, softskill menjadi salah satu mata kuliah. Mata kuliah softskill sebenarnya adalah mata kuliah biasa yang dijadikan softskill, sehingga terjadi perubahan sistem belajar-mengajar antara dosen dan mahasiswa. Perubahan tersebut adalah pada waktu mengajar dosen yang tidak diwajibkan full time, hal ini membuat ilmu yang diperoleh mahasiswa benar-benar hanya tergantung pada diri mahasiswa itu sendiri. Jika mahasiswa antusias dalam memperdalam ilmunya terkait dengan mata kuliah tersebut, maka dia akan semakin kaya akan ilmu, namun jika seorang mahasiswa kurang / tidak antusias, maka ilmu yang didapatkannya pun tidak akan mendalam. Softskill sebenarnya adalah adalah seperangkat kemampuan yang mempengaruhi bagaimana kita berinteraksi dengan orang lain. Soft skills memuat komunikasi efektif, berpikir kreatif dan kritis, membangun tim, serta kemampuan lainnya yang terkait kapasitas kepribadian individu. Tujuan dari pelatihan soft skills adalah memberikan kesempatan kepada individu untuk untuk mempelajari perilaku baru dan meningkatkan hubungan antar pribadi dengan orang lain. Soft skills memiliki banyak manfaat, misalnya pengembangan karir serta etika profesional. Dari sisi organisasional, soft skills memberikan dampak terhadap kualitas manajemen secara total, efektivitas institusional dan sinergi inovasi. Esensi soft skills adalah kesempatan. Lulusan memerlukan soft skills untuk membuka dan memanfaatkan kesempatan. Sukses di dalam sebuah pekerjaan tidak hanya bergantung kepada rasio dan logika individu tetapi juga kapasitas kemanusiannya. Kemampuan yang dimiliki manusia dapat diibaratkan sebagai Gunung Es (Ice Berg). Yang nampak di luar permukaan air ialah kemampuan Hard Skill/ Technical Skill, sedangkan kemampuan yang berada di bawah permukaan air dan memiliki porsi yang paling besar ialah kemampuan Soft Skill. Soft skill merupakan kemampuan yang tidak tampak dan seringkali berhubungan dengan emosi manusia. Banyak ditemukan hasil penelitian yang menunjukkan kesuksesan individu dalam bekerja dipengaruhi oleh karakteristik kepribadian individu. Penelitian kemudian mengarah pada pertanyaan karakteristik kepribadian seperti apakah yang mendukung kesuksesan dalam bekerja. Dari banyak teori kepribadian, teori kepribadian lima faktor (five factors personality) banyak dipakai untuk meninjau kesuksesan dalam bekerja. Lima faktor kepribadian tersebut merupakan gambaran mengenai karakteristik khas individu yang unik dan relatif stabil. Lima faktor tersebut antara lain : 1. Ketahanan Pribadi (conscientiousness). Ketahanan pribadi ini ditunjukkan dengan karakter gigih, sistematis, pantang menyerah, motivasi tinggi dan tahan terhadap beban pekerjaan. 2. Ekstraversi (extraversion). Tipe kepribadian ini ditandai dengan keterampilan membina hubungan dan komunikasi yang efektif, pandai bergaul, bekerja sama, aktif, mengutamakan kerjasama, atraktif dan asertif (terbuka). 3. Keramahan (agreableness). Tipe ini ditandai dengan sikap ramah, rendah hati, tidak mau menunjukkan kelebihannya, mudah simpati, hangat, dapat dipercaya dan sopan. 4. Emosi Stabil (emotion stability). Tipe ini ditandai dengan sikap yang tenang, tidak mudah cemas dan tertekan, mudah menerima, tidak mudah marah dan percaya diri. 5. Keterbukan terhadap pengalaman (openess). Individu dengan tipe ini memiliki daya pikir yang imajinatif, menyukai tantangan, anti kemapanan, kreatif, kritis dan memiliki rasa ingin tahu yang besar. Soft skills memiliki banyak variasi yang di dalamnya termuat elemen-elemen. Berikut ini akan dijelaskan beberapa jenis soft skills yang terkait dengan kesuksesan dalam dunia kerja berdasarkan dari hasil-hasil penelitian. 1.Kecerdasan Emosi. Melalui penelitian yang intensif Goleman (1998) menemukan bahwa kesuksesan seseorang tidak hanya didukung oleh seberapa smart seseorang dalam menerapkan pengetahuan dan mendemonstrasikan keterampilannya, akan tetapi seberapa besar seseorang mampu mengelola dirinya dan interaksi dengan orang lain. Keterampilan tersebut dinamakan dengan kecerdasan emosi. Terminologi kecerdasan Emosi diperkenalkan pertama kali oleh Salovey dan Mayer untuk menyatakan kualitas-kualitas seseorang, seperti kemampuan memahami perasaan orang lain, empati, dan pengaturan emosi untuk meningkatkan kualitas hidup (Gibbs, 1995). Kecerdasan emosi juga meliputi sejumlah keterampilan yang berhubungan dengan keakuratan penilaian tentang emosi diri sendiri dan orang lain; dan kemampuan mengelola perasaan untuk memotivasi, merencanakan, dan meraih tujuan hidup. 2. Gaya Hidup Sehat. Marchand dkk (2005) menemukan bahwa uang jutaan dolar terbuang oleh institusi dan masyarakat karena faktor minimnya produktivitas, pelayanan kesehatan, kecelakaan kerja dan pegawai yang absen dalam bekerja. Pendukung utama dari sekian indikator tersebut adalah gaya hidup individu yang tidak sehat. University of Central Florida memasukkan tema gaya hidup sehat ini sebagai target pengembangan soft skills bagi mahasiswa mereka. Topik yang diangkat dalam pengembangannya memuat nutrisi, manajemen stres, pengelolaan waktu, cultural diversity, dan penyalahgunaan obat terlarang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup yang sehat mempengaruhi tingginya ketahanan, fleksibiltas dan konsep diri yang sehat yang mempengaruhi tingginya partisipasi dalam komunitas. 3. Komunikasi Efektif. Cangelosi dan Petersen (1998) menemukan bahwa banyak kegagalan siswa di sekolah, masyarakat dan tempat kerja diakibatkan rendahnya keterampilan dalam berkomunikasi. Selain keterampilan komunikasi berperan secara langsung, peranan tidak langsung juga ditemukan. Secara tidak langsung keterampilan komunikasi mempengaruhi tingkat kepercayaan diri dan dukungan sosial yang kemudian dilanjutkan pengaruhnya ke kesuksesan. Soft skills memuat banyak jenis dan variasi. Institusi perlu menetapkan terlebih dahulu jenis soft skills yang dikembangkan. Eksplorasi hasil penelitian dan masukan dari alumni atau pakar dapat dipakai sebagai pertimbangan untuk memilih soft skills mana yang akan ditingkatkan. Dari penjelasan diatas, hal ini dilakukan untuk memenuhi tuntutan pengguna lulusan yang menuntut bahwa mahasiswa harus mempunyai : 1.interpersonal skills; 2.team spirit; 3.social grace; 4.business etiquette; 5.negotiation skills; 6.behaviour traits such as attitude, motivation and time to approach either a training organisation or a training consultant. Kejujuran sebagai salah satu softskill mahasiswa bagian kecerdasan emosi yang menuntut suatu bentuk sikap yang benar dari seorang mahasiswa. Bila kita telusuri banyaknya permasalahn di Negara ini bukanlah karena kurangnya kemampuan untuk menelaah dan memecahkan masalah tersebut, namun karena kurangnya kejujuran dan ketidaksiapan pemerintah ketika sikap transparan mereka dibutuhkan. Jika kejujuran tidak dimulai dari sekarang, maka ketidakberdayaan kita ini akan tetap berlarut-larut. Mahasiswalah tonggak peradaban sebagai bagian dari pemuda-pemudi intelektual. Komitmen sebagai Mahasiswa Kita menyadari kebutuhan dan urgensi dari softskill ini Karena kesuksesan dan kebermanfaatan kita di masyarakat ditentukan oleh kemampuan interpersonal kita dalam mengelola diri. Setiap hari kita di kampus menghadapi sikap dari teman-teman kita yang berbeda-beda. Ada jenis mahasiswa pertama yakni mahasiswa penjilat, yakni jenis mahasiswa yang bermain dan berusaha memperoleh perhatian dosen secara tidak jujur. Mahasiswa jenis ini adalah mereka yang tidak menyedari betapa pendidikan itu tidak sekadar nilai tertulis dalam Kartu Hasil Mahasiswa. Mereka menganggap nilai itu adalah segala-galanya yang paling penting dari aktivitas di kampus. Jenis mahasiswa kedua adalah mahasiswa pengejar beasiswa dengan tidak jujur. Usaha-usaha yang dilakukan bisa dengan menyogok pegurus beasiswa atau melakukan pendekatan tertentu kepada dosen tersebut. Sehingga diantara mereka terdapat kesepakatan dan akhirnya mahasiswa tersebut mendapatkan beasiswanya. Jenis yang selanjutnya adalah mahasiswa curang. Mahasiswa jenis ini hampir sama dengan mahasiswa penjilat namun praktek dan taktik yang dilakukan berbeda. Mahasiswa ini sangat mengutamakan nilai dengan cara mengubah isi DPNA. Aneh memang, namun inilah realita dan kenyataan yang harus dihadapi. Selain dari mahasiswa sendiri, ketidakjujuran kadang hadir dari dosen sendiri Hal tersebut disebabkan dosen memiliki cara-cara penilaian yang sangat privat sehingga sulit mengenali diri dosen tersebut, apakah memang objektif atau subjektif. Saya sebagai mahasiswa yang mempunyai cita-cita dan ambisi menjadi manusia yang lebih berguna dan bermartabat, akan berusaha senantiasa jujur dalam menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. Saya percaya, tanpa kejujuran China sebagai Negara yang besar penduduknya tidak akan pernah maju. Tanpa kejujuran Jepang juga tidak akan pernah menjadi Negara maju, Dan tanpa kejujuran, masalah-masalah di Negara ini tidak akan pernah usai. Mari menjadi mahasiswa jujur, berhentilah untuk jadi penjilat, jadi mahasiswa pengejar beasiswa dengan tidak jujur atau mahasiswa yang curang!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Entri Populer